SEMARANG,RPN – Gedung Cagar Budaya “Sobokartti” 26 November 2022 menggelar pertunjukan wayang kulit memperingati Hari Wayang Nasional dan Dunia dengan menampilkan lakon Wahyu Tirtomoyo dengan dalang Ki Madiyono.

Hadir dalam pagelaran tersebut selain para seniman kesenian Jawa, pemerhati wayang Semarang dan sekitarnya, para pemangku wilayah, juga beberapa organisasi kemasyarakatan lain seperti Keluarga Besar Marhaenis (KBM) dan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).

Selain pagelaran wayang kulit juga disemarakkan dengan tari klasik Jawa Gambyong Parianom serta diramaikan beberapa gending Jawa dari Paguyuban Leluri Laras Budaya PT Bina Hidup Group Semarang.

Dalam sambutannya, Arief Tri Laksono, SH, MM selaku Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang yang juga sebagai dewan pembina/ penasehat Sobokartti antara lain mengatakan bahwa wayang dapat berperan sebagai tontonan, tuntunan dan tatanan hidup manusia. Arief juga mengajak dan menghimbau semua pihak agar bersama – sama mewujudkan Sobokartti menjadi pusat kesenian kota Semarang.

Sebelum pagelaran wayang dimulai RT Slamet Riyanto WD menuturkan narasi yang bekaitan dengan peringatan hari wayang nasional/ dunia. Slamet Riyanto mengulas ringkas pejalanan sejarah wayang hingga mendapatkan pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 7 November 2003.

“Keadiluhungan wayang juga dikarenakan wayang memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai wadah untuk melestarikan budaya daerah serta cerita-cerita tradisional, sebagai penggambaran antara dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok dengan watak yang baik dan kelompok dengan watak buruk, sebagai sarana untuk menanamkan jiwa sosial karena biasanya pagelaran wayang diadakan besar-besaran dan mengumpulkan banyak masyarakat, sebagai media untuk hiburan rakyat, sebagai sarana pendidikan budi pekerti karena wayang memberikan pesan-pesan dan amanat di dalam ceritanya, dan masih banyak fungsi – fungsi teladan lain yang melekat pada keberadaan wayang.” kata Slamet Riyanto.

Baca Juga :  Pembangunan Sarana Air Bersih di TMMD Dukung Kesejahteraan Masyarakat

”Melihat pagelaran wayang yang semakin terpuruk akibat lunturnya kepedulian masyarakat Kita maka Perkumpulan Sobokartti dengan keterbatasannya tetap berusaha untuk melestarikan dan menghidupkan kebudayaan Jawa termasuk mengadakan pagelaran wayang kulit pada malam ini, sekaligus untuk memperingati hari Wayang Nasional dan Dunia tahun 2022,” kata Slamet Riyanto mengakhiri ulasannya.

“Ada yang menarik dalam pergelaran wayang kali ini. Kalau biasanya para penabuh gamelan di Sobokartti itu didominasi anak – anak muda, maka pada kesempatan kali ini kami menampilkan para senior, “ kata RT Soetrisno BD, Ketua Umum Perkumpulan Seni Budaya dan Gedung Cagar Budaya Sobokartti ketika ditemui awak media.

Wahyu Tirtomoyo yang dimainkan pada hari Wayang Nasional ini menceritakan tentang upaya mencegah terjadinya perang saudara Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa dengan diturunkannya Wahyu Tirtomoyo meskipun upaya pencegahan tersebut tidak dapat diwujudkan lantaran di akhir cerita Wahyu Tirtomoyo yang sudah diturunkan ditarik kembali. (Sanki W)

 11 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of