SIDOARJO,RPN – Tujuan awal mengantar sepeda ontel (gowes), saya berboncengan dengan Rossa sambil membawa sepeda dan di temani adik saya dari belakang. Dari Surabaya ke rumah saudara di Perum Pesona Gading Permata Lingkar Timur Sidoarjo. Sampai di rumah saudara kurang lebih jam 11.00 malam, karena keenakan ngobrol sampai lupa waktu sudah jam. 03.00 subuh, saudara menyuruh tidur dirumahnya saja, tetapi Rossa tidak mau karena sungkan, minta pulang tidur rumah saja, cerita suami dari Rossa.

Suaminya menambahkan lagi bahwa keluar rumah saudara kisaran jam 03.15  subuh (31/1/2021) saya dan Rossa ingin pulang lewat tengah kota saja (biar nanti barengan sama orang-orang berangkat ke pasar). Dan perjalanan sudah melewati alun-alun Sidoarjo menuju ke arah pulang balik Surabaya, motor jalan pelan sambil menunggu lampu merah ke hijau. terlihat segrombolan orang banyak di pertigaan Pucang, Sidoarjo. Saya kira Polisi/reserse yang lagi beroperasi, saya maju dengan rasa yakin karena surat-surat motoratau identitas kami lengkap, tertib memakai helm dan masker. Maju lagi pelan-pelan karena lampu sudah menandakan hijau. Setelah melewati garis Zebra Cross (perkiraan jam. 03.30) tiba-tiba saya di serang atau di keroyok pakai batu dan paving (benda itu yang saya lihat di pegang tangan mereka). Secara spontan saya tancap gas untuk menyelamatkan diri dari pengeroyokan. Selepas lolos dari pengeroyokan, motor kok terasa berat ke kanan (sambil memegangi tangan Rossa) dan ternyata Rossa sudah terkena pukulan/lemparan di kepala sampai mengakibatkan kepalanya pusing badan miring ke kanan sampai terjatuh perlahan dari motor dan spontan saya langsung melihat muka Rossa sudah berlumuran darah. Lalu seketika itu saya berhenti untuk menyandarkan motor dan langsung lari menepikan Rossa di dekat trotoar.

Baca Juga :  Satu Keluarga Di Bojonegoro Meninggal Dunia Bergantian karena Jebakan Tikus

Masih di lempari batu, Emosi saya meluap langsung menghampiri mereka dalam Hati berdoa “Bismillah yaa Allah kalau saya mati hari ini saya siap, yang penting Rossa jangan mati” lalu saya memberanikan diri untuk mendekat dan menanyakan ke mereka dengan suara keras, “Hee Salah Ku Opo Kok Di Keroyok Ngene!!! Arep Moleh Omah Ae Kok Di Kepruk’ii dan Di Sawati Watu, Nasib’e Bojoku Iki Terus Piye Getih Tok Iki Sirah dan Raine”.  Spontan mereka diam orang barisan depan berkata,” Hee Wes Wes Rekk Wong Wedok Iki. ” dan mereka perlahan mundur setelah mendengar teriakan Rossa memanggil saya secara keras dan ketakutan. Tidak lama kemudian secepatnya saya menelpon kakak yang tadi rumahnya di Perum Pesona Gading Permata, beberapa menit kemudian saya melihat ada korban lagi yang di lempari batu sampai terjatuh dari motor lalu di pukuli sampai kepalanya berlumuran darah. Selesai pengroyokan mereka pergi tergesa-gesa, sekilas saya melihat mereka ada yang lari masuk ke gang, ada yang ke arah alun-alun boncengan pakai motor dan ada yang lari ke arah jalan yang ada Pom dan rel kereta. Setelah itu kakak saya datang dengan membawa mobil bersama adik saya, ternyata waktu kejadian adik sempat melihat dan langsung putar balik ke arah rumah kakak. Sampai berpapasan di dekat pos perumahan, motor di titipkan lalu langsung masuk ke mobil kata Adik.

Secara langsung saya mengangkat Rossa ke mobil bersama Kakak, Adik dan orang sekitaran tempat kejadian untuk di bawa ke RSUD Sidoarjo. Saya Berharap Untuk daerah Sidoarjo Keamanannya lebih di jaga ketat demi keselamatan pengendara, dan pelaku segera ditangkap. (SUTARNO)

 7 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of