• Hasan Rohmad, M.Pd, Kepala Madrasah (MTs) As Salafiyah Sreseh Sampang

SAMPANG,RPN – Bahasa Daerah merupakan salah satu kekayaan dan sebuah budaya, dengan bahasa daerah kita dapat mengetahui Etnik dari seseorang atau golongan juga dapat mengetahui dari mana orang itu berasal.

Bahasa Daerah juga merupakan keseragaman Budaya yang harus kita lestarikan agar keberadaannya tidak hilang akibat perkembangan zaman modern ini.

” Kepala Madrasah MTs As Salafiyah, Sreseh Kabupaten Sampang, memaparkan bahwa Dalam Etnoloque (2012) disebutkan di Indonesia terdapat 728 bahasa diantaranya ada beberapa yang hampir/terancam punah , karena Masyarakat tidak mau melestarikan Bahasa tersebut , akan tetapi Masyarakat yang masih memilik Nilai-Nilai Kebudayaan kuat tetap mempertahankan Bahasa Daerahnya itupun tidak sedikit,” papar Hasan.

Lanjut Hasan banyak terjadi pada masyarakat Madura yang berada di Perkotaan, sejak kecil anak-anak mereka dibiasakan memakai Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, sehingga anak tersebut tidak terbiasa memakai Bahasa Madura ,” Ini sungguh sangat memprihatinkan dimana seharusnya Bahasa Daerah menjadi suatu kebanggaan tersendiri dalam Masyarakat , Bahkan Masyarakat tersebut malah tidak mau melestarikan Bahasa Daerahnya kepada generasi, Kurangnya kesadaran akan berakibat kurang baik juga untuk generasi berikutnya walaupun sebenarnya sangat sederhana , Bahasa Daerah merupakan jadi simbul dari sebuah Kebudayaan akan terancam punah kalau tidak ada yang melestarikannya, ” tutur Hasan Kepala Madrasah.

Bahasa Madura adalah salah satu dari sekian ratus Bahasa Daerah yang ada di Indonesia yang tepatnya Bahasa ini dimiliki Etnik Madura itu sendiri, bahkan dengan perkembangan zaman Bahasa Madura sudah menyebar keseluruh Nusantara, banyak orang mengenal Bahasa yang sangat khas ini, keberadaannya Bahasa Madura itu beragam meskipun Bahasa Madura akan dialeknya, diantara Kabupaten itu sangat berbeda antara Kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Baca Juga :  Sambangi Wilayah Binaan, Serda Istiqori Sosialisasikan Protokoler Kesehatan Kepada Warga

” Yang jadi permasalahan sekarang bukan perbedaan Bahasa Orang-Orang Madura, akan tetapi mulai terkikisnya Bahasa tersebut, dengan banyaknya orang tua yang mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya baik di Perkotaan maupun di Pedesaan.”

Hasan menambahkan, generasi penerus seperti anak-anak kecil seharusnya sejak dini diperkenalkan dengan berbagai Budaya, sering saya (Hasan) jumpai diberbagai percakapan antara Orang Tua terhadap anaknya dan menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan mereka tidak berasal dari Perkotaan melainkan dari Desa kecil yang berada di perbatasan kota, ternyata kebiasaan ini sudah mulai terjadi di Daerah pedalaman bukan di perkotaan saja, ini akan menjadi PR kita bersama sebagai Masyarakat untuk tetap menumbuhkan kecintaan terhadap Daerah, Dengan cara lebih menekankan lagi pelajaran tentang nilai-nilai Kebudayaan kepada para Siswa Siswi di Sekolah Dasar dan bahkan kepada Siswa tingkat menengah agar tumbuh pada jiwa mereka rasa bangga terhadap Budaya yang mereka miliki, ungkapnya.

Memang tidak salah sebagai orang Indonesia kita berhak dan wajib bisa berbahasa Indonesia karena bahasa tersebut merupakan bahasa tunggal yang digunakan untuk menyatukan Bangsa akan tetapi kita harus lebih mengerti dan memahami dulu Kebudayaan kita secara menyeluruh, baru kita kemudian bisa mempelajari Budaya Indonesia secara utuh.

Ada beberapa faktor yang perlu kita kaji bersama, beberapa penyebab terkikisnya Bahasa Madura dari Generasi, yang pertama yaitu Perkawinan antar Eknis ini bisa melunturkan bahasa daerah dari masing-masing orang tua yang berbeda Eknis dan akhirnya mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk menyatukan, akan tetapi ini bukan jadi masalah besar untuk tidak mengenal Bahasa Daerah atau Kebudayaan yang ada, sebagai orang tua masih bisa mengajarkan Bahasa Daerah kepada anak-anaknya dengan cara membiasakan didalam percakapan sehari-hari, yang Kedua yaitu budaya merantau faktor ini sangat erat hubungannya dengan kebiasaan orang Madura yang sering merantau ke luar Pulau sehingga para perantau jarang sekali menggunakan bahasa daerahnya bahkan menggunakan bahasa rantau / Bahasa gaul, faktor yang ketiga yaitu kurangnya rasa cinta terhadap budaya itu sendiri, Permasalahan ini terletak pada diri Individu masing-masing yang mana Seorang sudah tidak begitu Penting mempersoalkan masalah Kebudayaan , Bahasa Madura ini harus menjadi perhatian kita bersama agar bahasa yang telah menjadi ciri khas/simbul Budaya orang Madura tidak punah Akan tetapi lebih baik lagi jika setiap Individu merasa bahwa bahasa tersebut adalah kekayaan orang Madura , Bukannya bahasa yang kolot sehingga dikalahkan dengan bahasa lain , Kekayaan Budaya ini harus dipelihara oleh kalangan Masyarakat baik yang dari Kota maupun Desa , Dalam bermasyarakat kita tidak hidup sendirian begitu pula kita melestarikan sebuah Kebudayaan yang ada di Pulau Madura .
Bahasa Madura sebetulnya sama juga dengan Bahasa Tradisional yang harus dilestarikan dan di Budayakan kepada Generasi kita sejak dini.

Baca Juga :  Rapat Kerja DPRD Komisi IV Dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kabupaten Tuban

Namun dalam Era Globalisasi saat ini bahasa Madura kalah dengan Bahasa lokal ataupun bahasa gaul bahkan bahasa luar bukan menjadi salah satu Kebudayaan Madura serta banyaknya bermunculan bahasa gaul yang sering dipakai oleh generasi muda saat ini, sampai-sampai berkomunikasi dengan orang tua sudah tidak ada bahasa tata krama atau toto kromo / jawa, melainkan memakai bahasa gaul disinilah salah kaprah yang seharusnya dipahami menjadi tidak mengerti dengan sopan santun lagi saat ini. (WIE)

 14 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of