Salah seorang korban saat dimintai keterangan di Polres Trenggalek

Trenggalek, RPN – Laporan yang dilayangkan oleh 2 Warga Kabupaten Trenggalek yakni Suyono (47th) dan Ngatiyah (50th) atas dugaan tindak penipuan yang dilakukan oleh Hadi Suwito, warga Desa Mojopurno, Kabupaten Magetan, Sabtu (24/10/20) kemarin rupanya memicu reaksi korban lain untuk melaporkan dugaan tindak penipuan yang menimpa mereka ke Polres Trenggalek.

2 korban tersebut diatas dan 4 korban dugaan penipuan lainnya yakni Harko Wikan Jatmiko, warga Desa Pongalan, Sulistiono, warga Desa Krandegan, Eka Yona Pramudya, warga Desa Ngerdani, dan Linda Rahmawati warga Desa Gandusari Kabupaten Trenggalek beramai-ramai melaporkan Hadi Suwito, warga Desa Mojopurno, Kabupaten Magetan dan Rahmad Rezeqi Kurniawan, warga Desa Gandusari, Kabupaten Trenggalek ke Mapolres Trenggalek dan diterima oleh Kanit III SPKT Polres Trenggalek, AIPTU Winoto Bayu Kisworo yang salah satunya tanda bukti laporan diterima oleh Ngatiyah dengan Nomor TBL-B/60/X/RES.I.II/ 2020/RESKRIM/SPKT POLRES TRENGGALEK pada Hari Jumat (30/10/20).

“Sebenarnya yang melapor ke Polres Trenggalek ada 5, namun yang satu tidak bisa hadir karena kerja di Surabaya,” kata Suyono saat dihubungi Media Radar Pos Nasional melalui sambungam selular, Jumat (30/10/20).

Tanda bukti laporan dari Polres Trenggalek

Berkaca pada mentahnya laporan yang dilakukan oleh 2 korban di Polres Magetan yang diminta untuk membuat surat pengaduan ke Kapolres Magetan terlebih dahulu, lantas 4 korban ini membekali diri dengan surat pengaduan yang ditujukan ke Kapolres Trenggalek.

Dalam surat pengaduan tersebut diuraikan kronologi peristiwa dugaan penipuan yang dilakukan oleh Hadi Suwito dan Rahmad Rezeqi Kurniawan bermula di tahun 2018 saat 4 korban yakni Harko Wikan Jatmiko, Sulistiono, Eka Yona Pramudya dan Linda Rahmawati yang semuanya warga Kabupaten Trenggalek ini dikenalkan oleh seorang wanita bernama Ratna kepada Rahmad Rezeqi Kurniawan yang diakui sebagai PNS dilingkup BKN Regional Jawa Timur.

Baca Juga :  Polres Way Kanan Amankan Pelaku Penganiayaan Berat

Menurut keterangan Ratna tersebut, Rahmad menawarkan pekerjaan di BKN Regional Jatim (bukan BPN seperti yang ditulis pada koran Radar Pos Nasional edisi 24) sebagai tenaga P3K. Setelah beberapa kali pertemuan, Rahmad dan Hadi Suwito yang saat itu mengaku sebagai atasan Rahmad meminta dana sebesar 50 juta rupiah kepada masing-masing korban.

Dugaan aksi tipu-tipu ini tidak berhenti, di Bulan Oktober 2018, 4 orang korban ditambah 2 korban lain yakni Selvi (anak dari Ngatiyah) dan Bobby (anak dari Suyono) diminta untuk berkumpul dirumah Rahmad. Dalam pertemuan tersebut, Hadi Suwito memberikan informasi bahwa lowongan P3K dilingkup BKN Regional Jatim berubah menjadi institusi negara yang bernama LP5N. Disini, seluruh korban dijanjikan akan menerima SK paling lambat akhir Bulan Desember 2018.

Pasca pertemuan dirumah Rahmad, kedua terlapor sering berkomunikasi dengan korban-korbanya baik melalui telephon, chatting melalui medsos (Whatsapp) maupun pertemuan langsung. Pada puncaknya, Rahmad meminta dana 30 juta per orang yang lantas diberikan di Restoran Bebek Klinthing Trenggalek. “Setelah menerima dana tersebut, Rahmad menjadi sulit dihubungi,” lanjutnya.

Dilain waktu, sesuai dengan permintaan terlapor Hadi Suwito, pada tanggal 10 Agustus 2019, Hadi Suwito meminta kekurangan anggaran sebesar 20 juta per orang yang kemudian dibayar dilokasi sebelah barat PKM Karanganyar, Gandusari, Trenggalek. Namun dengan alasan akan ditunjukan ke atasannya, lantas kwitansi asli tersebut diminta kembali oleh Hadi Suwito dan korbannya hanya memiliki bukti foto kwitansi bermaterai tersebut.

“Setelah itu, janji hanya tinggal janji, pekerjaan sebagi tenaga P3K dilingkup BKN Regional Jatim yang kemudian berubah menjadi tenaga di LP5N yang dijanjikan sampai detik ini tidak terealisasi,” sesal Suyono.

Suyono dan semua korban yang lain berharap dan sepakat kalau bisa uang yang sudah disetorkan ke Rahmad dan Hadi Suwito dikembalikan utuh secara serentak dan tidak boleh dicicil per orang. Namun apabila tidak, maka Suyono dan korban-korban dugaan tindak pidana penipuan ini meminta pihak Kepolisian Resort Magetan dan Trenggalek untuk menjerat kedua terlapor kasus ini sesuai dengan KUH Pidana Pasal 378 sebagaimana yang dimaksud yaitu Tindak Pidana Penipuan. (Gg)

 52 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of