Foto : Tengah KH Mohammad Ali shodikin pendiri mafia sholawat Indonesia Tahun 2013 di ponorogo. foto kanan mustholah ketua mafia sholawat purbalingga utara

Purbalingga,RPN – Di masa pandemi COVID-19 para Pemuda dan Pemudi yang mengatasnamakan dirinya sebagai Mafia Sholawat Purbalingga Utara tetap melaksanakan kegiatan sholawatan rutin dua minggu sekali dengan cara berpindah-pindah tempat dari anggota satu ke yang lain baik antar desa atau Kecamatan.

Menurut mustholah (ketua Mafia Sholawat Purbalingga Utara) bahwasanya awal berdirinya Mafia Sholawat di Purbalingga Utara melalui proses perjalanan yang panjang. Karena banyak hal-hal yang menjadi kendala baik waktu atau jarak tempuh dari masing-masing wilayah ke wilayah lainnya.

Menurut musthola pada awalnya hanya bersama Hanito dan muflihun lalu menjadi 7 orang pertama kali melaksanakan kegiatan sholawat dan pada waktu hujan sangat lebat namun tidaklah menjadi penghambat bagi mereka yang dari 2 Kecamatan yakni Kecamatan Kertanegara dan Karangmoncol dengan semangat yang kuat penuh keyakinan dan keistiqomahan hingga pada akhirnya nya anggota semakin bertambah bahkan sampai saat ini sudah 90 anggota dari 5 Kecamatan yaitu Kertanegara, Karangmoncol, Rembang ,Bobotsari dan Karangjambu.

Sebagai ketua beliau menerima anggota baru namun ada beberapa syarat dan yang terpenting harus ada izin resmi dari kedua orang tua”. tutur musthola.

Pada umumnya anggota yang tergabung adalah para remaja atau pelajar dan pemuda-pemudi yang belum berumah tangga dan jika dilihat dari penampilannya/cara berpakaian mereka Bukankah terlihat seperti santri pada umumnya.

Dalam kegiatan sholawatan bukanlah baju koko yang mereka kenakan melainkan mayoritas mereka biasanya memakai kaos warna hitam yang bertuliskan mafia sholawat dan banyak tulisan-tulisan seperti BAPER artinya barisan pecinta Rasul GAUL gandulan ulama, pemuda “SESAT ” seneng sholawat dan dan masih banyak kata kata yang terlihat nyeleneh namun penuh makna, di situlah banyak orang memandang bahkan menilai negatif karena melihat dari penampilan ataupun fisik mereka.

Baca Juga :  Pendampingan Hukum Untuk Dana Desa

Namun demikian menurut mereka tidaklah menjadi penghalang untuk tetap melaksanakan kegiatan sholawat karena mereka sangatlah takzim terutama kepada guru besar “Mafia Sholawat” (Manunggaling fikiran lan ati ing dalem sholawat) Indonesia yaitu KH Muhammad Ali Sodikin/ Abah Ali Al- Mathoyibi atau lebih dikenal gus Ali gondrong beliau adalah pengasuh pondok pesantren roudlotun Nikmah Semarang.

Mafia Sholawat Purbalingga Utara juga sering tampil bersama grup hadroh Al Islah dari Desa tungkeb Karangjambu dan juga para penari sufi . Menurut musthola (ketua) selain melakukan kegiatan sholawatan mereka juga mempunyai kegiatan wirausaha diantaranya usaha sablon kaos, pembuatan peci, blangkon dan memproduksi kopi.

Muflihun beliau adalah sosok yang tegas juga sebagai vokalis yang memiliki suara merdu tidak sedikit jamaah yang hadir selalu meneteskan airmata karena lantunan sholawat beliau. Muflihun juga mengembangkan usaha produksi kopi yang diberi nama langsung resmi dari guru besar Mafia Sholawat dengan nama” KOPI PURBALARA” yang tersedia dalam bentuk sachet ataupun kiloan.

Menurut muflihun sebagian dari hasil penjualan akan disisihkan untuk kegiatan sholawatan dan kegiatan sosial. Harapan dari Mustolah selaku ketua Mafia Sholawat Purbalingga Utara adalah supaya kedepannya keberadaan dan kegiatannya dapat diterima dan didukung oleh masyarakat serta berharap untuk seluruh anggotanya supaya lebih solid kompak dan istiqomah. (Riyanto)

 103 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of