Oleh: Teddy Mizwar
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung

Wabah virus corona atau COVID-19 merupakan sebuah wabah penyakit yang mudah tersebar dan bisa berdampak kematian. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa pada saat ini dunia digemparkan dengan wabah penyakit ini yang mengakibatkan kerugian bagi setiap negara. Kehadiran wabah penyakit ini seolah-olah sudah menggerogoti berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, keagamaan, hukum dan lain sebaginya yang menyangkut dalam aktivitas sehari-hari yang menimbulkan kerumunan.

Pandemi COVID-19 sudah berhasil menghantui mancan negara termasuk negara Indonesia. Bermacam upaya pencegahan, pengobatan, isolasi, social distancing dan lockdown telah dilakukan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Bermacam upaya yang dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai COVID-19 mengakibatkan berbagai kegiatan yang menimbulkan kerumunan banya orang dilarang tegas. Prihal dengan pernyataan tersebut cukup relevan bagi penulis untuk mengutarakan pendapatnya dalam rangka mengdeskripsikan secara ringkas mengenai dampak dari wabah COVID-19 terhadap para perantau dari berbagai daerah.

Akibatnya bagi para perantau sangatlah terasa, mulai dari menurunnya penghasilan bagi yang berkerja, ketidak pastian jadwal dan ketentuan perkuliahan yang tidak pasti sangat lah membingungkan bagi para mahasiswa yang merantau. Masalah ini sudah menjadi sebuah dilema bagi para perantau dari berbagai daerah, mulain dari keinginan untuk pulang kampung halaman namun terhalang dengan kebijakan pemerintah, seperti dihentikannya laju transporatasi darat, laut dan udara selama pandemi COVID-19. alhasil para perantau hanya bisa pasrah dan bertahan diperantauan dengan segala hal yang tidak pasti.

Seiring hari yang terus berjalan tak terasa pademi COVID-19 ini telah sampai pada bulan suci umat islam, atau yang lebih tepatnya bulan ramadhan. Aktifitas yang sebelumnya mencerminkan nuansa bulan ramadhan, nampaknya tak terasa ditahun ini akibat dari wabah COVID-19 yang tak kunjung usai. Aktivitas sepeti sahur bersama, berbuka bersama, ngabuburit, tadarusan bersama, sholat tarawih, pembanyaran zakat, kebudanyaan menjelah bulan ramadhan, permainan anak-anak sewaktu bulan ramadhan dan lain sebaginya yang identik dengan aktivitas di bulan ramadhan nampaknya berjalan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Danrem 071/Wijayakusuma : Berikan Karya Terbaik Bagi Satuan dan Hindari Pelanggaran

Setiap daerah di Indonesia yang semestinya setiap menjelang bulan ramadhan mengadakan tradisinya harus berusaha menyesuaikan dengan peraturan pemerintah, yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya tradisi yang seharusnya diadakan setiap tahunnya harus ditiadakan pada tahun ini selama pandemi Covid-19, hal ini bisa saja berdampak buruk terhadap kebudayaan dan rasa kebersamaan masyarakat Indonesia. Kebijakan ini sangat lah sulit untuk dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terlebih karena tingginya rasa kebersamaan yang ada dalam masyarakat Indonesia.

Layak kita sadari serta kita akui bahwa kebudayaan dan kearifan lokal seperti tahlilan, yasinan, dan perkumpulan lainya sudah mendarah daging dikalangan masyarakat Indonesia. Bahkan sampai muncul sebuat selogan yang menyatakan “nggak makan yang penting kumpul”. Dengan munculnya kebijakan pemerintah mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara otomatis menjadi sebuah ujin bagi masyarakat Indonesia yang kuat akan rasa sosialnya.

Bagi masyarakat sekitar nampaknya tidak menjadi sebuah masalah yang besar karena masih bisa berkumpul bersama dangan keluarga dirumah selaman bulan ramadhan di tengah pandemi wabah COVID-19. Namun lain hal dengan para perantau, para perantau yang tak bisa pulang kampung (mudik) di bulan ramadhan terpaksa dan pasrah berdiam diri diperantauan akibat di tutupnya laju transportasi darat, laut dan udara untuk sementara. Akibatnya para perantau tidak bisa menikmati bulan suci ramadhan dan hari raya idul fitri bersama dengan keluarga di kampung halaman.

Tak hanya sebatas masalah tidak bisa mudik pada saat libur lebaran, para perantau juga harus berjuang untuk bertahan hidup tanpa keluarga diperantauan selama pademi COVID-19. Hari raya Idul Fitri yang semestinya berkumpul dengan keluarga serta sebagai pelepas lelah selaman diperantauan nampaknya lenyap ditelan Covid-19. Larangan mudik lebaran sudah pasti menjadi sebuah dilema bagi para perantauan. Keinginan merayakan hari raya dengan keluarga dan orang terkasih secara otomatis terkendala, akibatnya para perantau haya bisa pasrah berlebaran di tanah perantauan tanpa keluarga dan orang terkasih di sisinya.

Baca Juga :  DR H Endar Susilo SH MH ; Selamat dan Sukses Konggres Anak Indonesia untuk Masa Depan Anak yang Lebih Baik

Aktivitas mudik yang menimbulkan puluhan orang tentu saja berpotensi menjadi sarana penyabaran wabah COVID-19. Situasi tersebut sudah pasti menimbulkan kekhatiran bagi penduduk lokal, apalagi jika pemudik tidak menyadari jika dirinya terpapar COVID-19 saat berada diperantauan maupun diperjalanan menuju kampung halaman. Dilema ini seolah-olah menjadi sebuah kesedihan bagi para perantau yang tidak bisa mudik menjelang lebaran. Lebaran yang semestinya berkumpul dengan keluarga dirumah, terpaksa ditiadakan akibat karantina wilayah yang diadakan pemerintah yang melarang untuk berpergian keluar masuk wilayah atau daerah tertentu.

Namun disisi lain pemerintah juga mengizinkan untuk melakukan mudik, namu harus memenuhi beberapa sarat sebagai berikut :

Bagi warga yang mudik di wilayah zona merah COVID-19 diminta untuk mengisolasi diri selama waktu yang sudah ditentukan.

Isolasi dilakukan selam 14 hari dan harus mau melakukannya.

Pemudik wajib melakukan pemeriksaan kesehatan guna mengetahui apakan negatif atau positif COVID-19.

Perangkat desa seperti lurah, Pendukuh, Naninsa atau Babinkamtibmas dikerahkan untuk melakukan pendataan terhadap para pemudik yang pulang kampung.

Para pemudik yang berada dii tempat domisilinya harus masuk sebagai daftar Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Pemerintah daerah wajib membantu para pendatang untuk memeriksa diri ke rumah sakit yang memadai di daerah tersebut.

Di posisi sebagi perantau hal ini sangatlah menjadi sebuah kegaluan yang hanyut dalam pikiran. Para perantau dihadapkan dengan buah simalakama, yaitu jika mudik mereka terhalang kebijakan pemerintah dan sarat-saratnya yang rumit, namun jika tetap berada diperantauan mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman dan harus berusaha bertahan hidup diperantauan selama pademi COVID-19. Masalah ini sangat lah menjadi beban bagi para perantau, bukan hanya beban ekonomi melainkan juga beban mental yang dialami para perantau. Oleh karena itu, bagi para perantau tetaplah bersabar dan mengikuti arahan dari pemerintah setempat demi menyalamatkan orang banyak dari ancaman wabah Covid-19.

Baca Juga :  Perspektif Islam tentang Mudik di Masa Pandemi Covid-19

Oleh karena itu, penulis mengajak agar masyarakat dan pemerintah untuk fokus mengenai permasalahan wabah Covid-19 ini. karena sesunggunya segala permaslah dapat diselesaikan dengan mudah apa bila ada kesadaran dan kerja sama dari masyarakan dan pemeritah, dalam rangka memutuh mata rantai penyebaran wabah Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah angka pasien positif terjangkit wabah Covid-19 ini.

Harapan penulis dengan terbitnya tulisan ini dapat menyadarkan masyarkat akan bahayanya wabah Covid-19. Tetap semangat bagi para pasien yang terpapar maupun yang terinfeksi wabah Covid-19, dan tetaplah waspada bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ingatlah, bahwa kesehatan itu mahal, oleh karena itu biasakanlah pola hidup sehat serta menaati kebijakan pemerintah guna menyelamatkan saudara kita, teman kita dan negeri yang kita cintai ini.

 7 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of