Oleh M. Bastian Purnama
Penulis adalah Mahasiswa semester 2 fakultas Ilmu Politik di Universitas Bangka Belitung

Tambang-tambang rakyat ini salah satu yang berperan dalam menikmati hasil tambang rakyat adalah kelompok-kelompok swasta yang ada di Bangka Belitung.

Inilah pulau bangka pulau pesisir timur di Sumatera Selatan ini merupakan salah satu tujuan wisata favorit ditanah air. Ini terbukti dalam waktu satu tahun keindahan alam bangka mampu menarik wisatawan domestik untuk datang. Jumlah wisatawan pun naik hingga 7 persen.

Tidak hanya menyimpan tempat-tempat wisata yang menarik untuk di kunjungi pulau bangka di provinsi Bangka Belitung merupakan penghasil timah terbesar di indonesia bahkan sepertiga hasil timah di dunia berasal dari sini. Namun sayangnya kekayaan hasil bumi ini belum sepenuhnya menjadi berkah bagi masyarakat dibangka.

Sisa tambang timah justru menjadi penyumbang kerusakan lingkungkan. Sejak dulu pulau bangka dikenal sebagai daerah penghasil timah. Maklum saja dari 11 juta ton keseluruhan jumlah timah dunia 0,9 juta cadangan timah itu ada di pulau bangka.

Belakangan ini tambang timah tradisional mulai bermunculan. Para penambang biasanya membuka lahan tambang baru dan meninggalkan begitu saja bekas galian yang lama. Cara menambang seperti ini menyisakan kubangan-kubangan besar dan kerusakan-kerusakan disekeliling tanah yang mereka gali. Lubang-lubang bekas tambang tak bisa di kembalikan keadaannya seperti semula.

Upaya penanaman pohon berakhir sia-sia. Ini karena lahan sisa tambang timah berupa pasir tak memungkinkan tanaman untuk tumbuh kembali. Ada beberapa tempat limbah tambang yang berada di bangka yang kabarnya tempat pembuangan limbah ini tidak pernah sepi. Banyak masyarakat yang mencari peruntungan rezeki dari limbah tambang yang di buang di tempat pembuangan limbah tambang.

Baca Juga :  Sadarkan Warga Pentingnya Kesehatan, Polsek Mranggen Terus Bagi-Bagi Masker

Para pendulang limbah ini bekerja dari siang sampai malam demi mencari sisa-sisa biji timah yang masih ada. Kebanyakan dari pada pendulang limbah tambang timah ini dahulu merupakan penambang liar. Kini mereka beralih mengolah sisa-sisa limbah tambang dari perusahaan timah yang masih beroperasi hingga saat ini.

Mendulang timah memang identik dengan kerjaan kasar kaum laki-laki. Namun disini tidak sedikit pekerja ibu-ibu yang ikut menceburkan diri ke dalam aliran limbah tambang yang kotor dan sangat berbahaya ini. Walaupun kerjaannya beresiko karena terkena campuran kimia dari limbah tambang ini tetapi hanya dari hasil mendulang ini yang dapat diperoleh pundi-pundi rezeki yang mereka andalkan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka melakukan pekerjaan beresiko inj disebabkan karena ekonomi yang semakin sulit dan semakin tingginya harga-harga kebutuhan sehari-hari serta untuk membiayai anak-anak mereka bersekolah. Bergulat dengan limbah tambang setiap hari tentu bukan tanpa resiko, bahan-bahan kimia yang terkandung dalam aliran limbah sudah pasti sangat berbahaya bagi kesehatan terutama kesehatan kulit serta pernapasan mereka yang diakibatkan dari bahan kimia tersebut.

Bahaya penyakit kanker bisa mengancam mereka. Namun semuanya tidak diperdulikan mereka yang hanya berfikiran agar kompor dirumah tetap menyala serta biaya anak sekolah dapat dibayar tepat pada waktunya.

Tentu ini merupakan dampak dari perusahaan timah yang hanya meraup keuntungan dari timah yang dimana dampaknya kepada masyarakat sekitar yang tidak mendapatkan keuntungan sedikit pun dari hasil bumi daerah mereka sendiri. Didalamnya terdapat urusan politik serta kekuasaan yang hanya mementingkan uang untuk saku pribadi mereka dengan bekerja sama dengan pihak asing yang keuntungannya berkali-kali lipat.

Semakin kurangnya perhatian dari pemerintah daerah yang mengakibatkan kesejahteraan masyarakat pribumi krisis dari dampak keegoisan para kaum elite-elite politik di daerah Bangka Belitung.

Baca Juga :  Pertahankan Zona Hijau, Kapolsek Bersama Bonek Bagikan Masker di Pasar Krian

Masyarakat sekitar bahkan sebagian tidak mau memperdulikan kekayaan alam serta kerusakan yang terjadi pada daerah mereka sendiri. Keuntungan dari timah itu sendiri tidak masuk dalam tunjangan kehidupan masyarakat sekitar serta kerusakan alam yang diakibatkan dari limbah timah maupun galian timah sangat berbahaya bagi ekosistem laut serta daratan bahkan hewan pun tidak banyak yang mati karena kerusakan alam yang diakibatkan limbah tersebut.

Tentu ini lah yang harus di perhatikan oleh pemerintah setempat yang harus peduli akan dampak dari timah tersebut terhadap alam serta terhadap masyarakat sekitar yang menjadi kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Masyarakat akhirnya berharap kepada yang sekarang mendapat amanah menjadi pejabat pemerintah di daerah ini agar mengelola SDA daerah dengan bijaksana. Gunakanlah amanah ini dengan sebaik-baiknya karena pertanggungjawaban yang paling adil adalah dihadapan-Nya.

Tegaslah jika memang ada pelanggaran. Sungguh nyata dimata mereka jika pertambangan menjadi sektor anak emas di daerah ini. Perikanan dan wisata bahari terkesan menyesuaikan dengan kebijakan pertambangan yang terkadang kurang bijak dalam pelaksanaannya.

UU 23/2014 telah mengamanahkan sektor pertambangan, perikanan/kelautan dan kehutanan menjadi wewenang pemerintahan provinsi. Hitung kembali luasan penambangan laut di Pulau Bangka, janganlah lebih dari 50% dari total luasan laut.

Segera sahkan Perda Rencana Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Kep. Babel. Jangan biarkan berlarut-larut lama karena kajiannya sudah dilakukan di Tahun 2012. Khawatir terkesan seakan sengaja diperlama karena ada “oknum” yang menikmati keuntungan dari ketidak teraturan dan ketidak tegasan ini.

 38 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of