JEPARA,RPN – Petani Kopi di Desa Kunir Kecamatan Keling, Memperluas Lahan Budidaya Kopi Organik. Kopi Organik Yang Di hasilkan di desa Tersebut dinyatakan lolos sertifikat sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) Ketentuan Menteri Pertanian, serta Regulasi dari Bahan Pengawasan Obat Dan Makanan BPOM RI.

Kabupaten Jepara sendiri Siap Menjadi Kawasan Pengembangan Kopi Nasional untuk mengisi pasar dalam dan luar negeri yang cenderung permintaan terus meningkat. Kesiapan tesebut didasari atas ketersediaan hamparan areal tanaman lahan kopi rakyat yang mencapai -+2 Hektar atau baru tergarap -+ 1Hektar 68 persen.

Seperti diketahui, saat kopi Jepara telah berkembang tidak hanya berupa biji kering (ose/green bean), tetapi juga sudah berupa biji sangrai (roasted bean) maupun berupa bubuk kopi. Selain kopi robusta, dalam kurung waktu Tiga tahun terakhir juga sudah mulai dikembangkan kopi Arabika dan Robusta.

Berkembangnya beragam produk kopi Jepara ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas usaha agrobisnis, kopi sejak dari usaha budidaya, panen, pasca panen dan pengolahan hasil. Hal ini terungkap pada kegiatan Krida pembangunan bertemakan wiwitan panen kopi dan pencanangan Desa Kunir Sebagai desa organik berbasis komoditas kopi, bertempat di lapangan Desa Kunir, Kecamatan Keling Kabupaten Jepara.(Sabtu,21/20).

Ketua Gabungan Kelompok Tani/Gapoktan Sido Dadi Keliban Mengatakan, “Sebelum lolos sertifikat pihaknya mendapat pendampingan lebih dua tahun untuk memastikan produk yang dihasilkan tertangani secara organik sejak budidaya hingga proses pengolahan dan pengemasan.”

Di Jepara hanya ada dua Gapoktan Yang bisa memperoleh Sertifikat ini. Yaitu Kami dan Gapoktan Di Desa Tempur,” Ujarnya.

Sertifikat ini diterbitkan lembaga sertifikat Icert, berlaku sejak 3 Oktober 2019 Hingga 2 Oktober 2020. Produk Kopi organik Gapoktan Sido Dadi Lolos Sertifikat Sesuai Ketentuan SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik, Permentan Nomer 64 Tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik, Serta Peraturan Kepala BPOM Nomer 1 Tahun 2017 tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik.

Baca Juga :  Metode Bekam Oleh Nurse Kadir

Produk Yang disertifikatkan berupa Kopi Robusta Green Bean(Biji kopi) dari Lahan Budidaya Di Desa Kunir.Sedangkan Operasional produksi yang disertifikasi meliputi produksi, pengolahan (Pulping,Drying dan hulling), serta pengemasan kopi Robusta. Hampir semua tanaman kopi di kunir Merupakan jenis Kopi Robusta.

Keliban Melanjutkan, meski sertifikat ini berlaku dari lahan 12,04 hektare, tetapi petani yang bergabung di Gapoktan kami terus melakukan perluasan budidaya. “saat ini luas lahan produksi kopi organik sudah mencapai 25 hektare,” jelasnya.

Perluasan lahan budidaya organik dilakukan karena permintaan kopi organik terus meningkat. Ada Yang untuk keperluan Ekspor, pabrik juga untuk memenuhi permintaan komunitas penyaji kopi, seperti di Caffe, kedai dan angkringan.

Selain itu harga jual kopi organik juga lebih tinggi. Kopi organik diyakini lebih sehat karena tidak mengandung unsur Kimia. “Dalam bentuk Green bean, harga kopi robusta di tingkat petani di sini sekitar Rp.18 ribu per kilogram. Sedangkan kopi Organik Robusta bisa mencapai Rp40 ribu,” Ungkapnya.

Keliban menambahkan, Petani di desanya berkomitmen menjaga kualitas kopi sesuai standar masing-masing jenis produk. Untuk kopi petik merah misalnya, Ujar keliban, Dia memastikan semua kopi yang diolah benar-benar dipanen dalam kondisi kulitnya sudah berwarna merah. “Ada satu saja yang warnanya hitam, pasti saya sisihkan. Proses pengeringan di bawah sinar matahari pun dilakukan di para-para,” Pungkasnya.

DP-JPR

 22 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of