Obat merupakan suatu komiditi dagang yang menarik. Target konsumen yang menggunakan adalah orang yang sangat membutuhkan karena kondisi tubuh yang kurang sehat, sehingga pasti segala cara akan dilakukan oleh pasien yaitu konsumen obat tersebut untuk memperoleh produk tersebut yaitu obat.

Pemasaran obat memiliki regulasi yang sangat ketat karena sifatnya adalah “racun” dengan nilai konsentrasi tertentu akan memberikan efek terapi atau farmakologis sehingga memberikan khasiat, hal ini dinamakan dosis. Akibat dengan regulasi yang ketat tersebut menghasilkan produk yang mahal menurut masyarakat.

Di satu sisi, kehidupan konsumtif dari masyarakat mengakibatkan kecendrungan tidak memiliki danan cadangan atauk dana darurat. Hal ini membuat keinginan mendapat produk dengan harga lebih murah semakin meningkat. Produk “KW” sering menjadi hal yang ditawarkan oleh pedagang atau distributor. E-commerce saat ini sangat digemari masyarakat sebagai wahana mencari diskon atau harga yang lebih murah dari semestinya atau harga pasar.

Melalui siaran pers Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) Indonesia tanggal 10 Desember 2019, ditemukan lebih dari 53 miliyar rupiah kosmetik ilegal, obat tradisional ilegal, dan pangan olahan ilegal di empat gudang yang berada di Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Pelaku diduga melakukan kejahatan peredaran kosmetik, obat tradisional, dan pangan olahan ilegal dengan modus penjualan melalui jasa pengiriman kurir oleh PT Boxme Fullfillment Centre dan penjualan melalui e-commerce (online) oleh PT 2WTRADE.

“Sesuai perjanjian kerja sama, PT Boxme Fullfillmet Centre menerima pesanan barang dari PT 2WTRADE, PT. Globalindo Kosmetika Internasional, dan PT. Digital Commerce Indonesia. Dalam perjanjian tersebut, PT Boxme menerima dan membungkus barang sesuai pesanan. Selanjutnya barang dikirim kepada pembeli melalui jasa pengiriman/kurir” ungkap Penny K. Lukito.

Baca Juga :  Babinsa koramil 427-03/BLU Sub Negeri Agung Himbaua Masyarakat di Kampung Pulau batu

Badan POM telah melakukan kerja sama untuk meningkatkan efektivitas pengawasan keamanan dan mutu serta kebenaran informasi dari produk Obat dan Makanan yang beredar secara online yaitu : Bukalapak, Tokopedia, Halodoc, Klikdokter, Grab, dan Gojek. Selain itu, Badan POM menerapkan 2D barcode untuk memerangi produk palsu. Melalui Peraturan Kepala Badan POM no. 33 tahun 2018 tentang Penerapan 2D Barcode dalam Pengawasan Obat dan Makanan, Badan POM menunjukkan keseriusan akan hal ini.

Penerapan 2D Barcode ini berlaku untuk obat yang diproduksi di dalam negeri dan/atau yang impor untuk diperdagangkan di wilayah Indonesia. 2D Barcode akan berjalan untuk dua sistem yaitu 2D Barcode Otenfikasi untuk golongan obat keras, produk biologi, narkotika, dan psikotropika. Yang kedua, adalah 2D Barcode Identifikasi untuk golongan obat bebas dan bebas terbatas. Informasi yang diperoleh pada 2D Barcode Otenfikasi adalah Nomor Izin Edar/Nomor Identitas produk yang berlaku internasional, nomor bets atau kode Produksi, tanggal kadaluwarsa, nomor serialisasi. Sedangkan untuk 2D Barcode Identifikasi informasi yang akan diperoleh adalah nomor izin edar dan masa berlaku izin edar.

Saat ini, sejak peraturan dikeluarkan di tahun 2018 proses persiapan dari Badan POM dengan Perusahaan Farmasi masih terus dilakukan. Oleh karena, investasi yang perlu dikeluarkan tidak murah maka proses implementasi ini akan dilakukan secara bertahap dan paling lambat implementasi akan berlaku secara menyeluruh untuk semua produk yang dipasarkan 2025 atau 7 tahun setelah peraturan ini diterbitkan.

Digitalisasi dan kemajuan teknologi harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin salah satunya pengawasan obat dan makanan. Sehingga mampu untuk menghalangi perdagangan obat palsu, dimana fungsi pengawasan tidak hanya di Badan POM tetapi masyarakat atau konsumen dapat melakukan fungsi tersebut. Harapannya tidak ada lagi kejadian vaksin palsu yang heboh pada tahun 2016.

Baca Juga :  Pengamanan Natal dan Tahun Baru, Polres Demak Gelar Latihan Pra Operasi Lilin Candi Tahun 2019

Untuk kedepannya, fungsi 2D Barcode mungkin tidak hanya sebagai pengecekan, akan tetapi informasi atau data ini dapat dipergunakan oleh Badan POM, Perusahaan Farmasi, atau masyarakat Indonesia.

Penulis: Ivan Riandi M. Hutabarat, S.Farm, Apt.

Mahasiswa MM Tech President University

 69 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of