LAMONGAN,RPN – Kekerasan dan intimidasi terhadap kuli tinta kini telah terjadi lagi, ternyata kebebasan pers belum bisa di laksanakan di indonesia ini, kemarin sejumlah jurnalis mengalami kekerasan dan itimidasi oleh oknum aparat kepolisian saat meliput aksi unjuk rasa di sekitar gedung DPR/MPR.

Ketua Majelis Pers Lamongan Sugeng basuki mengatakan kebanyakan jurnalis yang mengalami kekerasan itu saat ada liputan demo, tertuang jelas Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pasal 4 di dalam ayat 1 disebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, ayat kedua bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, ayat ketiga bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers.

Akan tetapi menurut sugeng ada 26 kasus kekerasan oleh polisi terhadap jurnalis pada januari hingga agustus 2019, belum termasuk 10 kasus kekerasan dalam liputan unjuk rasa pada 23-24 september 2019 Sugeng meminta kepolisian segera memproses kasus kasus tersebut. Ia menilai selama ini tidak ada keseriusan dari kepolisian untuk menindaklanjuti kasus kasus tersebut.

Sebelumya sejumlah jurnalis mendapat tindakan kekerasan dari aparat kepolisian saat meliput aksi unjuk rasa pada tanggal 23-24 september. Sebanyak empat orang jurnalis mengalami kekerasan saat meliput di gedung DPR/MPR RI jakarta, sementara enam lainya tersebar di makasar dan jayapura, enam dari sepuluh kasus adalah kekerasan yang diterima jurnalis saat merekam aksi brutal aparat terhadap unjuk rasa, masih lanjut sugeng basuki kami MPN Lamongan merasa prihatin terhadap nasib teman teman jurnalis dan mengecam segala bentuk kekerasa terhadap jurnalis. ( ed)

 21 total views,  1 views today

Baca Juga :  Rakernas Gerindra, Penentuan Sikap Oposisi atau Gabung Jokowi

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of