Ritual Keduk Beji Tawun Lestarikan Budaya Tradisional Turun Temurun Terkesan Unik Dan Menarik

Radar Post Nasional.Com – NGAWI : Buadaya tradisional yang sudah sedemikian mengakar di sebuah desa bisa dikatakan sebagai kearifan lokal yang mencerminkan keberagaman budaya di tengah kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada sisi pandang budayawan. Pada umumnya budaya tradisional melekat erat dengan kepercayaan atau keyakinan yang telah melegenda sejak jaman nenek moyang secara turun menurun seperti halnya yang terjadi di Sendang Tawun dan kini terkenal dengan kolam renangnya.

Wakil Bupati Ngawi ( Paling kanan) berbaur ikut menjadi pelaku prosesing ritual

Tawun adalah sebuah desa yang berjarak 7 km dari pusat kota Kabupaten Ngawi termasuk wilayah Kecamatan Kasreman. Di jaman dahulu kala menurut cerita dari mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat setempat, Tawun adalah merupakan kawasan yang dulunya tandus dan kering. Dalam pada itu ada seorang sakti bernama Ludrojoyo yang sampai sekarang dikenal sebagai Seorang Pertapa pahlawan yang menjadi Cikal Bakal atau Pendahulu desa Tawun dengan julukan Eyang Ludrojoyo.

Pada suatu saat Eyang Ludrojoyo bertapa dalam sebuah gua dan kemudian muksa ( meninggal dan phisiknya hilang karena kehendak Tuhan Pencipta Alam Semesta – Red.) seperti apa yang dituturkan Pomo yang akrap dipanggil Mbah Wa Pomo tetua desa Tawun sekaligus pemeran utama dalam prosesi ritual tradisional sejak bertahun-tahun.

“ Kegiatan Keduk Beji adalah untuk mengenang perjuangan Eyang Ludrojoyo yang menghilang dari pertapaannya di dalam gua dan gua tersebut menjadi mata air yang tak pernah mengering serta sangat bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Hilangnya Eyang Ludrojoyo bersamaan dengan timbulnya mata air pada hari Selasa Kliwon. Maka sebagai penghormatan dan ucapan terimakasih kepada Eyang Ludrojoyo kita taruh kendi berisi legen di dasar mata air tempat Eyang Ludrojoyo bertapa tempo dulu setahun sekali sehabis panen raya,” demikian tutur Mbah Pomo.

Baca Juga :  Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Yang Ke 74 Di Dusun Pandekan Desa Dimoro Purwodadi Jawa Tengah.

Sebelum dilaksanakan penyimpanan kendi sumber atau beji atau mata air yang berpelataran seluas 20 X 30 m itu dibersihkan dulu dari kotoran yang berupa dedaunan, ranting-ranting yang berjatuhan serta sebangsa lumut. Dalam kegiatan itu pemuda desa setempat tanpa mengenal lelah bersama-sama membersihkannya. Uniknya pelataran sumber yang pada kesehariannya dihuni oleh ratusan bulus (sebangsa kura-kura berukuran besar-Red.) dan ribuan ikan yang biasanya merupakan tempat pengunjung bercengkerama dengan mengasih makan mereka, saat dilakukan pembersihan ratusan bulus dan ribuan ikan menyembunyikan diri dan saat tempat tersebut sudah bersih mereka bermunculan kembali.

Seiring prosesi ritual juga ditampilkan budaya tradisional yang menarik perhatian pengunjung, antaralain panggang kambing, langen budaya beksa yang dilakukan oleh para seniwati yang mempesona,selain itu juga ditopang dengan berbagai pentas seni yang setiap tahun penuh dengan inovasi. Untuk kali ini ( 13/8/2019 ) crew jaranan dari Blitar sempat menarik perhatian pengunjung demikian juga penampilan siswi-siswi dari SMP Negeri Kasreman sempat memukau pengunjung.

Pemerintah Kabupaten Ngawi mengapresiasi perhelatan tersebut terbukti dengan hadirnya Bupati,Wakil Bupati, Forkopimda OPD terkait dan para Pejabat Teras. Bupati Ngawi Ir. Budi Sulistyono dalam sambutannya antara lain mengaakan bahwa semua elemen masyarakat hendaknya melestarikan budaya asli Ngawi sebagai wahana budaya daerah yang hamper tergerus oleh budaya global.

“ Setiap daerah mempunyai kebudayaan ikon khas daerahnya. Dan Keduk Beji Tawun yang sudah mentradisi ini menjadi kewajiban kita untuk melestarikannya,” demikian ungkap Bupati Ngawi. Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar, ST,MH sempat berbaur menjadi pemeran prosesi ritual mengantar Sang Juru Silem Mbah Wa Pomo melaksanakan penyimpanan kendi yang berisi legen ke dalam gua pusat sumber petilasan Eyang Ludrojoyo bertapa dan muksa.

Baca Juga :  PT Trias Persada Indonesia Berbagi Rejeki Dengan Anak-anak Yatim Di Sekitarnya.

“ Pemerintah Kabupaten Ngawi dari tahun ke tahun terus mengupayakan agar budaya Bersih Desa Keduk Beji Tawun yang sudah menjadi tradisi tetap dilestarikan sebagai wisata budaya guna meningkatkan jalannya roda perekonomian masyarakat,” demikian ungkap Wabup Ngawi di sela-sela kesibukannya.(pdy)

 7 total views,  1 views today

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of